Rincian dan Cara Menghitung Besar Iuran BPJS Ketenagakerjaan

Agar jaminan sosial dari BPJS Ketenagakerjaan bisa didapatkan secara menyeluruh, pemerintah mewajibkan para pekerja dan perusahaan untuk mendaftarkan diri serta pekerjanya sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Ada segudang manfaat BPJS Ketenagakerjaan yang akan anda dapatkan apabila menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, diantaranya Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM) dan Jaminan Pensiun (JP).

Masing-masing manfaat merupakan program yang bisa dipilih ketika menjadi peserta BPJS. Setiap program memiliki tarif iuran yang berbeda. Lalu bagaimana cara menghitung besar tarif iuran BPJS Ketenagakerjaan ?. Berikut ulasannya.

Besar Iuran BPJS Ketenagakerjaan

Berapa Besar Iuran BPJS Ketenagakerjaan ?

Selama menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, kewajiban yang harus anda penuhi adalah membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan setiap bulannya. Iuran tersebut nantinya dapat dicairkan oleh para peserta dalam bentuk uang tunai, sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Berbicara mengenai besar iuran BPJS Ketenagakerjaan yang harus dibayar, perhitungan berdasarkan jumlah program jaminan yang diambil. Perhitungan besar iuran ini harus anda pahami betul agar tidak terjadi kesalahpahaman, terutama bagi peserta BPU atau mandiri.

Karena proses pendaftaran hingga pembayaran iuran dilakukan secara mendiri oleh peserta. Berbeda dengan peserta PPU atau pekerja yang bekerja di sebuah perusahaan, proses pendaftaran hingga pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan di urus oleh pihak perusahaan.

Sehingga peserta tidak perlu pusing menghitung jumlah iuran yang harus dibayar setiap bulan. Berikut ini adalah cara menghitung besar iuran yang harus dibayar berdasarkan program jaminan dari BPJS Ketenagakerjaan :

1. Program Jaminan Hari Tua (JHT)

Sesuai dengan namanya, program Jaminan Hari Tua (JHT) adalah program yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan yang bertujuan untuk menjamin pekerja atas risiko yang bisa datang sewaktu-waktu, terutama ketika peserta memasuki masa tua.

Baca Juga : Cara Cek Saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan Dengan Aplikasi BPJSTKU

Manfaat dari JHT ini adalah peserta akan mendapatkan uang tunai dengan jumlah yang terdiri dari akumulasi iuran ditambah dengan hasil pengembangannya. Untuk peserta yang bekerja di perusahaan atau peserta PPU, besar iuran yang harus dibayar adalah sebesar 5,7% dari upah yang diterima, dengan porsi 2% dari pekerja dan 3,7% dari perusahaan.

Sedangkan untuk peserta mandiri atau Bukan Penerima Upah, besar iuran yang harus dibayar adalah sebesar 2% dari penghasilan. Sedangkan untuk pekerja migran atau WNA yang bekerja di Indonesia minimal 6 bulan, besar iuran yang harus dibayar adalah Rp 105 ribu hingga Rp 600 ribu.

Iuran BPJS Ketenagakerjaan harus dibayarkan paling lambat tanggal 15 setiap bulannya, baik baik untuk peserta PPU maupun mandiri. Apabila sampai terlambat, peserta akan dikenakan denda sebesar 2% setiap bulan keterlambatan dari iuran yang dibayarkan.

2. Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

Program JKK akan melindungi pekerja dari berbagai risiko kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja. Mulai dari risiko kecelakaan selama dalam perjalan ketempat kerja, pulang, kecelakaan ditempat kerja, perjalanan dinas serta risiko terhadap penyakit dari lingkungan kerja.

Klaim untuk program JKK ini berlaku maksimal 2 tahun setelah terjadi kecelakaan. Berikut adalah besar iuran yang harus dibayar oleh peserta BPJS Ketenagakerjaan :

  • Untuk penerima upah, iuran akan dibayar oleh perusahaan. Besar iuran JKK akan dihitung berdasarkan tingkat risiko lingkungan kerja, sebagai berikut :
    • Tingkat risiko rendah banget, sebesar 0,24 persen dari upah.
    • Tingkat risiko rendah, sebesar 0,54 persen dari upah.
    • Tingkat risiko sedang, sebesar 0,89 persen dari upah.
    • Tingkat risiko tinggi, sebesar 1,27 persen dari upah.
    • Tingkat risiko sangat tinggi, sebesar 1,74 persen dari upah.
  • Bukan penerima upah : sebesar 1 persen dari penghasilan yang dilaporkan.
  • Jasa konstruksi : mulai dari 0,21 persen yang nilainya berdasarkan nilai proyek.
  • Pekerja migran Indonesia : sebesar Rp 370 ribu.

Untuk lebih jelas mengenai iuran JKK dan JHT Anda dapat melihat tabel berikut ini :Tabel Iuran BPJS Ketenagakerjaan Jaminan Kecelakaan Kerja

3. Program Jaminan Kematian (JKM)

Program jaminan ini adalah program yang akan menjamin dengan memberikan uang tunai kepada ahli waris peserta apabila peserta meninggal dunia bukan disebabkan karena kecelakaan kerja. Berikut besar iuran BPJS Ketenagakerjaan yang harus dibayar oleh peserta setiap bulannya :

  • Penerima upah : 0,3 persen dari upah yang dilaporkan dan dibayarkan oleh pemberi kerja atau perusahaan.
  • Bukan penerima upah : Rp 6.800 per bulan.
  • Jasa konstruksi : mulai dari 0,21 persen yang nilainya berdasarkan nilai proyek.
  • Pekerja migran Indonesia : Rp 370 ribu.

4. Program Jaminan Pensiun

Program Jaminan Pensiun adalah jaminan sosial yang diberikan oleh pemerintah untuk menjamin kehidupan yang layak bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan di masa pensiun. Termasuk apabila peserta mengalami cacat total atau meninggal dunia. Program ini hanya diberikan untuk peserta PPU dengan besar iuran sebesar 3% dengan porsi 1% dari pekerja dan 2% dari perusahaan.

Baca Juga : Hal Yang Perlu Anda Ketahui Sebelum Mencairkan Dana JHT

Dengan adanya jaminan sosial dari BPJS Ketenagakerjaan, sangat memberikan manfaat bagi para pekerja untuk melindungi diri dari risiko ketika bekerja. Manfaat yang didapatkan bukan hanya pekerja tetap saja namun juga bisa dinikmati oleh seluru pekerja lainnya, termasuk pemberi kerja dan pekerja perorangan.

error: Content is protected !!